Perempuan Pencinta Vespa Temukan Kebebasan dan Persaudaraan, Dari Hobi Jadi Gaya Hidup

Comunity Otomotif

Deru mesin skuter klasik dan perjalanan menyusuri jalanan menjadi bagian dari kesenangan tersendiri bagi Dea Elencia Firdausy atau Deea, Alfina Santosa atau Fina, serta Raden Ria Supenrijaty yang akrab disapa Mama Ria. Bagi mereka, Vespa bukan sekadar kendaraan untuk berpindah tempat, melainkan bagian dari gaya hidup yang menghadirkan pengalaman, kebebasan, dan persaudaraan.
Deea, yang lahir di Nganjuk pada 9 Desember 1997, mulai menekuni hobi Vespa sejak 2012. Ketertarikannya muncul ketika mencoba mengendarai skuter klasik dengan ciri khas perpindahan gigi dan kopling di tangan serta rem di kaki. Sekali mencoba, ia langsung bisa mengendarainya dan jatuh hati pada keunikan motor tersebut. Vespa Super menjadi pilihannya karena ukuran dan bentuknya dirasa cocok untuk perempuan. Kini, sebagai Ketua Lady Scooter, Deea tidak hanya menjadikan Vespa sebagai kendaraan harian, tetapi juga bagian penting dalam kesehariannya.
Bagi Deea dan Fina, pengalaman paling berkesan justru hadir saat melakukan touring jarak jauh. Perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya motor mengalami masalah, ada tantangan yang harus dihadapi, tetapi ada pula kebahagiaan yang sulit dilupakan. Semua pengalaman itu menjadi pelajaran tersendiri. Ungkapan “jalanan adalah sekolah” menggambarkan bagaimana perjalanan mengajarkan kesabaran, kemandirian, dan kemampuan menghadapi situasi yang tidak terduga.


Menjadi perempuan yang aktif dalam hobi otomotif bukan berarti terbebas dari pandangan miring. Deea mengakui, perempuan yang sering berkegiatan di luar rumah, terlebih bergabung dalam komunitas motor, terkadang masih mendapat penilaian berbeda dari lingkungan sekitar.

Namun, ia memilih tetap menikmati hobinya selama dijalani secara positif dan tidak merugikan orang lain. Baginya, hal terpenting adalah bertanggung jawab, menaati aturan lalu lintas, serta tetap mengutamakan keselamatan saat berkendara.
Hal lain yang membuat Vespa begitu istimewa adalah solidaritas antarpengendaranya.

Deea menilai komunitas Vespa memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat. Ketika seorang pengendara mengalami kendala mesin saat berada di luar kota, sesama pencinta Vespa di daerah tersebut biasanya berusaha membantu, termasuk mencarikan suku cadang yang dibutuhkan.

Semangat saling menolong itu sejalan dengan slogan yang lekat di kalangan mereka, yakni “satu Vespa sejuta saudara”. Untuk perawatan, biaya yang dikeluarkan menyesuaikan kebutuhan kendaraan, dengan penggantian oli mesin sebagai salah satu hal penting yang tidak boleh diabaikan.


Semangat kebersamaan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan Mama Ria, sosok senior di komunitas Lady Scooter Banjarmasin. Bagi perempuan kelahiran Jakarta, 24 Juli 1963 ini, komunitas dapat menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, berbagi pengalaman, sekaligus mendorong perempuan agar percaya diri menekuni hobi yang disukai. Kehadiran sosok senior seperti Mama Ria juga memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap Vespa dapat bertahan lintas generasi, menyatukan perempuan dengan usia dan latar belakang berbeda dalam satu kesenangan yang sama.


Bagi Deea dan Fina, hobi Vespa bukan tentang siapa yang paling jauh melakukan perjalanan atau siapa yang memiliki kendaraan paling menarik, melainkan tentang keberanian mencoba, menikmati proses, dan membangun hubungan baik dengan sesama. Deea pun menitipkan pesan kepada perempuan yang masih ragu untuk memulai hobi serupa. “Jangan pernah memulai dengan keraguan. Yakinkan diri bisa, karena kapan lagi mau mencoba?” pesannya.
Pada akhirnya, Vespa bukan hanya tentang skuter klasik yang melaju di jalanan, tetapi juga tentang kebebasan memilih, pengalaman hidup, dan persaudaraan yang tumbuh di sepanjang perjalanan.(bir/radar otomotif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *